PROFIL

FORKA INDONESIA adalah lembaga penelitian dan pelatihan yang berfokus pada pemberdayaan ekonomi berbasis kewirausahaan sosial dan teknologi digital.

Visi Kami:

Menjadi lembaga riset dan pelatihan dalam upaya pemberdayaan ekonomi berbasis kewirausahaan sosial dan teknologi digital nasional pada tahun 2030

Untuk mencapai visi tersebut, Forka Indonesia mencanangkan misi sebagai berikut:

a. Mendorong penyebaran pengetahuan dan keterampilan di bidang manajemen bisnis, kewirausahaan sosial dan teknologi digital melalui pemanfaatan berbagai media dan teknologi terkini.

b. Mengelola jasa konsultasi dan pelatihan untuk meningkatkan kesempatan dan kapasitas intelektual bagi mitra.

c. Melakukan kolaborasi dengan semua pihak (stakeholder) guna mempermudah serta memberikan dampak yang lebih besar dari kerja-kerja organisasi.

ALASAN KEBERADAAN

Gagasan mengenai FORKA INDONESIA hadir setelah kami membaca beberapa buku bagus tentang “green economy” dan topik sejenis. Di antaranya karya Makower dan Pike (2008) berjudul “Strategies for the Green Economy; Opportunities and Challenges in the New World of Business”, lalu tulisan Renato J. Orsato (2009) berjudul “Sustainability Strategies; When Does it Pay to be Green” dan buku berjudul “Smart Green; How to Implement Sustainable Business Practices in Any Industry and Make Money” karangan Jonathan Estes (2009).

Orsato (2009:4) mendefinisikan praktik-praktik yang diambil oleh organisasi manapun untuk mengurangi dampak lingkungan dari proses, produk, dan layanan di sepanjang keseluruhan siklus kehidupan (life-cycle) produk atau jasa yang dihadirkan perusahaan ini dengan istilah “corporate environmentalism”. Sedangkan Estes (2009:7) mendefinisikan “sustainability” dalam bisnis sebagai “Upaya menyatukan konsep yang biasanya saling berlawanan seperti pelayanan sosial dan lingkungan hidup yang baik dengan tujuan mendapatkan keuntungan keuangan bagi perusahaan”.

Penulis-penulis tersebut intinya menangkap ada peluang membangun model bisnis yang selain profitable (menguntungkan), juga memberikan dampak positif pada lingkungan hidup dan lingkungan sosial. Ada beberapa istilah yang dipakai, misalnya “environmentalism”, “green business”, sampai “sustainability”. Macam-macam, namun benang merahnya sama.

Setelah mencari lagi, ada istilah yang menurut kami lebih sederhana dan mencakup semua konsep di atas, yaitu “Social Enterprise”. Merujuk definisi yang dipublikasikan di situs web Investopedia.com, ‘social enterprise’ dimaknai sebagai: “A social enterprise or social business is defined as a business that has specific social objectives that serve its primary purpose. Social enterprises seek to maximize profits while maximizing benefits to society and the environment. Their profits are principally used to fund social programs.”

Disamping buku-buku di atas, kesadaran dari kelompok generasi milenial dan generasi Z terhadap isu degradasi kualitas lingkungan, perubahan iklim, ketimpangan pendapatan-kekayaan, dan pengangguran juga terus meningkat. Hal ini bisa dilihat dalam rilis survey berjudul “The Deloitte Global Millennial Survey 2020: Resilient Generation Hold the Key to Creating a Better Normal”.

Kesadaran yang sebenarnya sudah cukup lama diantisipasi oleh pelaku bisnis, terutama korporasi dengan iklan-iklan yang menampilkan kepedulian mereka terhadap lingkungan sosial-ekologis; kemasan yang bisa didaur ulang, program CSR untuk masyarakat tertinggal, mendesain kemasan jadi mengandung unsur serba ‘green’, dan banyak lagi.

Meningkatnya kesadaran masyarakat serta konsumen dan perubahan pola bisnis ala ‘social enterprise’ ini menurut kami menarik untuk terus dikawal pertumbuhannya. Bukan hanya dalam gagasan akademis, namun juga harus bisa diwujudkan dalam praktik bisnis dan konsumsi sehari-hari. Baik industri berskala besar maupun yang berskala UMKM. Tanpa perubahan semacam ini, ‘bom waktu’ berupa dampak kerusakan lingkungan hidup dan masalah sosial-ekonomi yang muncul sebagai efek samping dari proses bisnis akan lebih cepat menyerang kita, juga tentu generasi yang akan datang.

Masyarakat Indonesia juga dikenal memiliki solidaritas sosial yang tinggi, karakter ini yang sejak lama memunculkan istilah gotong royong atau kolaborasi. Berdasar pada karkater tadi pula, jauh-jauh hari para pendiri bangsa telah menawarkan model usaha koperasi sebagai bentuk usaha yang paling cocok untuk masyarakat. Solidaritas ini yang menarik untuk dikaji dan ditawarkan relevansinya dengan era teknologi internet dan digital yang saat ini hadir mengubah banyak aspek dari bisnis. Dengan perilaku ekonomi yang kolaboratif kita bisa merawat karakter serta falsafah khas Indonesia, juga menyelesaikan banyak persoalan terkait ketidaksamaan ‘modal’ untuk bersaing, ketimpangan kompetensi/keahlian juga ketimpangan kekayaan atau pendapatan.

Profil lengkap Forka Indonesia bisa diakses pada tautan berikut: https://bit.ly/ForkaIndonesia

KONTAK KAMI

Email: idforka@gmail.com
Whatsapp: 0851-5840-5844

Perumahan Griya Rosari Indah, no. E6, Mojosongo, Jebres, Surakarta

KIRIM TULISAN

Kirimkan tulisan anda mengenai topik terkait melalui email idforka@gmail.com atau nomor Whatsapp 0851-5840-5844

TIM KAMI

Direktur: Luthfi Hamdani

Operasional:
Urtha Dwi N.
Penelitian, Publikasi dan Kerja-Kerja Lain:
Najim Nur Fauziyah &
Naili Amalia