PROFIL

FORKA INDONESIA memiliki visi untuk menjadi perkumpulan para penulis, peneliti dan pelaku usaha yang mampu membangun jejaring serta melakukan kemitraan dengan komunitas, pemerintah, dan/atau swasta yang dikelola secara profesional dan demokratis demi kemajuan Indonesia, secara khusus dalam kajian dan kerja-kerja yang berkaitan dengan “social dan religious enterprise” serta pengembangan ekonomi berdasar falsafah gotong royong (kolaborasi).

Untuk mencapai visi tersebut FORKA INDONESIA  melakukan lima misi sebagai berikut:

  1. Mendorong penyebaran pengetahuan di bidang “social dan religious enterprise” serta ekonomi berdasar falsafah gotong royong melalui pemanfaatan berbagai media dan teknologi terkini demi menyasar publik akademis dan masyarakat luas. Dikemas dalam bentuk tulisan, gambar maupun video.
  2. Mengelola jasa konsultasi dan pendidikan untuk meningkatkan kesempatan dan kapasitas intelektual bagi seluruh kelompok sosial, terutama stakeholder.
  3. Memberikan ruang bagi pengembangan hingga pemasaran bagi produk yang dihasilkan oleh mitra kami.
  4. Menyelenggarakan pelatihan dan penguatan kapasitas intelektual untuk merangsang inisiatif dan keterampilan melakukan analisa juga mengimplementasikan secara nyata konsep “social dan religious enterprise” serta ekonomi berdasar falsafah gotong royong.
  5. Melakukan kolaborasi dengan semua pihak (stakeholder) guna mempermudah serta memberikan dampak yang lebih besar dari kerja-kerja organisasi.

LATAR BELAKANG KEBERADAAN

Gagasan mengenai FORKA INDONESIA hadir setelah kami membaca beberapa buku bagus tentang “green economy” dan topik sejenis. Di antaranya karya Makower dan Pike (2008) berjudul “Strategies for the Green Economy; Opportunities and Challenges in the New World of Business”, lalu tulisan Renato J. Orsato (2009) berjudul “Sustainability Strategies; When Does it Pay to be Green” dan buku berjudul “Smart Green; How to Implement Sustainable Business Practices in Any Industry and Make Money” karangan Jonathan Estes (2009).

Orsato (2009:4) mendefinisikan praktik-praktik yang diambil oleh organisasi manapun untuk mengurangi dampak lingkungan dari proses, produk, dan layanan di sepanjang keseluruhan siklus kehidupan (life-cycle) produk atau jasa yang dihadirkan perusahaan ini dengan istilah “corporate environmentalism”. Sedangkan Estes (2009:7) mendefinisikan “sustainability” dalam bisnis sebagai “Upaya menyatukan konsep yang biasanya saling berlawanan seperti pelayanan sosial dan lingkungan hidup yang baik dengan tujuan mendapatkan keuntungan keuangan bagi perusahaan”.

Penulis-penulis tersebut intinya menangkap ada peluang membangun model bisnis yang selain profitable (menguntungkan), juga memberikan dampak positif pada lingkungan hidup dan lingkungan sosial. Ada beberapa istilah yang dipakai, misalnya “environmentalism”, “green business”, sampai “sustainability”. Macam-macam, namun benang merahnya sama.

Setelah mencari lagi, ada istilah yang menurut kami lebih sederhana dan mencakup semua konsep di atas, yaitu “Social Enterprise”. Merujuk definisi yang dipublikasikan di situs web Investopedia.com, ‘social enterprise’ dimaknai sebagai: “A social enterprise or social business is defined as a business that has specific social objectives that serve its primary purpose. Social enterprises seek to maximize profits while maximizing benefits to society and the environment. Their profits are principally used to fund social programs.”

Disamping buku-buku di atas, kesadaran dari kelompok generasi milenial dan generasi Z terhadap isu degradasi kualitas lingkungan, perubahan iklim, ketimpangan pendapatan-kekayaan, dan pengangguran juga terus meningkat. Hal ini bisa dilihat dalam rilis survey berjudul “The Deloitte Global Millennial Survey 2020: Resilient Generation Hold the Key to Creating a Better Normal”.

Kesadaran yang sebenarnya sudah cukup lama diantisipasi oleh pelaku bisnis, terutama korporasi dengan iklan-iklan yang menampilkan kepedulian mereka terhadap lingkungan sosial-ekologis; kemasan yang bisa didaur ulang, program CSR untuk masyarakat tertinggal, mendesain kemasan jadi mengandung unsur serba ‘green’, dan banyak lagi.

Meningkatnya kesadaran masyarakat serta konsumen dan perubahan pola bisnis ala ‘social enterprise’ ini menurut kami menarik untuk terus dikawal pertumbuhannya. Bukan hanya dalam gagasan akademis, namun juga harus bisa diwujudkan dalam praktik bisnis dan konsumsi sehari-hari. Baik industri berskala besar maupun yang berskala UMKM. Tanpa perubahan semacam ini, ‘bom waktu’ berupa dampak kerusakan lingkungan hidup dan masalah sosial-ekonomi yang muncul sebagai efek samping dari proses bisnis akan lebih cepat menyerang kita, juga tentu generasi yang akan datang.

Masyarakat Indonesia juga dikenal memiliki solidaritas sosial yang tinggi, karakter ini yang sejak lama memunculkan istilah gotong royong atau kolaborasi. Berdasar pada karkater tadi pula, jauh-jauh hari para pendiri bangsa telah menawarkan model usaha koperasi sebagai bentuk usaha yang paling cocok untuk masyarakat. Solidaritas ini yang menarik untuk dikaji dan ditawarkan relevansinya dengan era teknologi internet dan digital yang saat ini hadir mengubah banyak aspek dari bisnis. Dengan perilaku ekonomi yang kolaboratif kita bisa merawat karakter serta falsafah khas Indonesia, juga menyelesaikan banyak persoalan terkait ketidaksamaan ‘modal’ untuk bersaing, ketimpangan kompetensi/keahlian juga ketimpangan kekayaan atau pendapatan.

Supaya memberikan sentuhan yang lebih khas Indonesia, yang masyarakatnya hampir semua adalah pemeluk agama, terutama muslim, kami tertarik pada naskah pidato pengukuhan guru besar ekonomi syariah dari Profesor. Dr. Muhtadi Ridwan di Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang (13/08/2020).

Beliau menuturkan bahwa corak pemahaman keagamaan punya pengaruh ke perilaku (serta kondisi) sosial-ekonomi masyarakat. Mulai ‘gaya’ Protestanisme-Calvinisme yang versi Weber (1905) jadi faktor kemunculan kapitalisme modern. Atau versi Geertz (1977) hasil riset di Kediri, kaum santri (paham-taat pada ritus keagamaan) bisa maju secara ekonomi kalo punya organisasi-jejaring yang baik.

Secara teologis (ilmu kalam), umat islam yang menjadi pelaku usaha dituntut untuk tidak jadi fatalis (jabariyah); pasrah seutuhnya pada nasib, atau juga menarik diri dari dunia profesional dan kompetisi. Sebab rezeki jelas ada yang ngatur (distribusi asset, pendapatan, kekayaan), tapi tentu oleh orang-orang atau kelompok yang mendominasi struktur sosial ekonomi, bukan murni urusan Tuhan. Dengan pemahaman keagamaan yang sesuai, UMKM serta pekerja profesional bisa terus bersaing dan maju.

Selain itu, kami mengikuti tulisan artikel, berita maupun hasil riset yang menunjukkan bahwa dunia terus mencari nilai-nilai ideal dari perilaku bisnis, terutama menyikapi keserakahan, ketidakadilan distribusi kekayaan, perampasan hak atas tanah dan banyak lagi. Sejauh kami pahami, agama telah menawarkan nilai yang luas dan mendalam terkait transaksi atau ‘muamalah’ dan motivasi individu dalam mengupakayakan urusan duniawinya. Tawaran nilai dan sistem ini perlu terus dikaji, disesuaikan, lalu dikampanyekan.

Karena mendapat sentuhan relasi vertikal antara manusia-tuhan, nilai etis dan sistem (prosedur serta perintah-larangan) agama tentang bagaimana bisnis idealnya dilakukan, istilah dari apa yang akan kami geluti menjadi sedikit bertambah menjadi: “Social-Religious Enterprise”.

Kombinasi beragam informasi di atas mengantar kami mendefinisikan secara sederhana apa yang kami kerjakan di Forka Indonesia (www.forka.id), yaitu: “Menjadi katalisator kemajuan Indonesia dengan riset dan penerapan ‘Social-Religious Enterprise’., serta praktik ekonomi berdasar falsafah luhur gotong royong (kolaborasi).”

KONTAK KAMI

Email: idforka@gmail.com
Whatsapp: 0859-4297-9521

Perumahan Griya Rosari Indah, no. H4, Mojosongo, Jebres, Surakarta

KIRIM TULISAN

Kirimkan tulisan anda mengenai topik terkait melalui surel idforka@gmail.com.

TIM KAMI

Direktur: Luthfi Hamdani

Operasional:
Urtha Dwi N.
Penelitian, Publikasi dan Kerja-Kerja Lain:
Najim Nur Fauziyah &
Naili Amalia