SUKOHARJO – Pengurus Komisariat (PK) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Raden Mas Said Cabang Sukoharjo menggelar Rapat Kerja (Raker) di Sekretariat Komisariat, Sabtu (9/8/2025). Mengusung tema “Srawung, Sinau, Sinarengan”, kegiatan ini berlangsung sejak pagi hingga siang dan dihadiri seluruh jajaran pengurus baru.
Raker dibuka dengan sambutan Ketua PK PMII Raden Mas Said, Irfan Nurkholis, yang menegaskan bahwa forum ini bukan sekadar agenda formal tahunan, melainkan ruang strategis untuk menyatukan visi, misi, dan arah gerakan organisasi satu periode ke depan.
“Rapat kerja adalah titik awal. Kita di sini untuk membangun kesepahaman, menguatkan tekad, dan memastikan program yang kita jalankan memberi dampak yang baik,” ujarnya.
Suasana diskusi yang hangat menggambarkan semangat kolaborasi di antara peserta. Berbagai ide dan rencana strategis mengalir, mulai dari gagasan membentuk unit pengelola dana sosial yang bisa menyalurkan bantuan ke masyarakat sekitar, penyusunan kurikulum keilmuan untuk memperkuat kaderisasi intelektual, hingga program kunjungan pesantren bertajuk RMS Goes to Pesantren di wilayah Solo Raya.
Baca Juga: Lokapasar terbaik untuk belanja buku referensi perkuliahan
Tidak ketinggalan, pembenahan administrasi organisasi juga menjadi perhatian, termasuk memastikan seluruh anggota baru tahun 2025 memiliki Kartu Tanda Anggota (KTA) resmi.
Di samping itu rencana memperluas jejaring dengan komunitas lokal, pemerintah setempat desa, serta menginisiasi forum-forum isu sosial dan aksi nyata seperti bersih kampung, bantuan warga terdampak, kajian aksi, hingga demonstrasi, turut mengemuka sebagai langkah konkret menguatkan peran sosial PMII di tengah masyarakat.
Diskusi yang dimulai sejak pagi itu berlangsung dinamis. Meski beberapa topik memerlukan perdebatan panjang, semua peserta mampu menjaga suasana tetap kondusif. Hasil-hasil pembahasan kemudian dirumuskan menjadi komitmen bersama yang akan menjadi pedoman gerakan selama periode kepengurusan ini.
Menjelang siang, Raker ditutup dengan doa bersama dan foto dokumentasi. Para pengurus pulang dengan membawa semangat yang sama: menjadikan Srawung, Sinau, Sinarengan bukan hanya slogan, melainkan napas pergerakan yang menghubungkan kampus, kader, dan masyarakat.











