• TENTANG KAMI
  • KIRIM TULISAN
  • REDAKSI
FORKA
Indonesia Imaji
  • BERANDA
  • FORKA INSTITUE
    • RISET
    • DISKUSI
  • SOCIAL ENTERPRISE
  • BERITA
  • OPINI
  • AKADEMI
  • BISNIS
  • KOMUNITAS
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • FORKA INSTITUE
    • RISET
    • DISKUSI
  • SOCIAL ENTERPRISE
  • BERITA
  • OPINI
  • AKADEMI
  • BISNIS
  • KOMUNITAS
No Result
View All Result
FORKA
No Result
View All Result

Dirgahayu Pergerakan: Sebuah Refleksi atas Keberadaan yang Tiada

Ini hanya sebuah tulisan atas keadaan yang tiada; sebuah fenomena kerja aktivisme PMII yang rawan mengidap penyakit di usia rentannya.

FORKA INDONESIA by FORKA INDONESIA
April 23, 2022
in OPINI
0
Dirgahayu Pergerakan: Sebuah Refleksi atas Keberadaan yang Tiada
0
SHARES
145
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Penulis: Idrus

Ini bukan tulisan yang mengajak para pembaca untuk menelaah bagaimana konstelasi politik dunia atas invasi yang dilakukan Rusia terhadap Ukraina. Bukan juga tulisan yang membahas kritik wacana agama, di tengah kehampaan ruang produksi wacana kiri islam, atau sebuah analisa atas kritik ekonomi-politik yang semakin kapitalistik.

Sekali lagi bukan, ini hanya catatan humor di tengah euforia kelahiran PMII yang ke-62:

“Adil dan makmur kuperjuangkan”

“Apa Transformasi Gerakannya? Dan Peradaban Seperti Apa yang Dirawat?” Tanya seorang Kader

Belakangan, kita sering dihadapkan pada realitas ketertindasan akibat dampak dari sistem ekonomi-politik yang semakin kapitalistik, mengakibatkan petani tercerabut dari tanah-tanah garapan melalui kekerasan (Aparratus represif), misal fenomena di Wadas Jawa Tengah yang nyaris menjadi kajianmendadak di setiap kelompok intelektual, sebenarnya ini satu dari sebagian besar konflik agraria yang sedang terjadi―akibat ketidakadilan penguasaan sumber-sumber agraria dan ketimpangan struktur penguasaan sumber agraria.

Wajar saja kalau organisasi pergerakan ini memiliki tradisi mengkaji setelah kejadian dan terjebak pada perkara yang aksidental kurang subtantif, karena tidak disiplin-ajeg untuk mengkaji dan memproduksi wacana. Sehingga tidak mampu memahami gejala-gejala realitas sosial yang terjadi―secara sistemik dibawah sistem kapitalisme nasional-global.

Dalam manifestasi gerakannya, PMII sering kali abstain, pun ia memilih hadir di tengah problem sosial, semisal tidak konsisten mulai dari level pemikiran sampai pada praksis gerakannya.

Bagaimana bisa di satu sisi PMII ingin hadir dan terlibat pada realitas ketimpangan yang terjadi di Wadas, Jawa Tengah. Di sisi lain bersamaan dengan itu pula berembuk dengan kekuasaan untuk memperkuat praktik pembangunan yang berpotensi merampas ruang hidup dan alih fungsi lahan yang menyebabkan krisis dan ketimpangan, sebut saja rembukan projek Ibu Kota Negara (IKN). Hemat saya, ini mungkin manifestasi paradigma PMII hari ini, disatu sisi harus kritis, disisi lain juga transformatif.

Pada persoalan yang lebih akut, misal merespon fenomena Banjir di Kota Malang, sering kali PMII terjebak pada model gerakan yang klise­―mengkonsolidasi gerakan di bahu jalan, mengumpulkan receh dari kardus kotak untuk di konversi menjadi beras, minyak, dan bahan-bahan pangan lainnya­―lalu di distribusikan pada korban banjir, mungkin efisien untuk membantu korban banjir dari kelaparan tapi kurang efektif untuk menjawab persoalan.

Pertanyaannya adalah apakah gerakan karikatif ini mampu menjawab persoalan-pokok? Seharusya kesadaran ini mulai bergeser, dengan melakukan analisa-sosial dari hulu-hilir sebab penambangan di kawasan hutan-Cangar dan alih-fungsi lahan-Batu sampai pada konteks hilir seperti perubahan tata ruang yang menyebabkan banjir di Malang.

Semua ini tidak lepas dari basis materi dalam relasi ekonomi-politik, gagal membedakan gejala buatan manusia (antropogenik) dan gejala alamiah (Kosmogenik). Beruntung PMII selama ini, memiliki modal amal shalih―sebagai bungkus yang menutupi ke abstain-an pada realitas ketertindasan yang sering dijadikan jargon.

Pada titik ini PMII perlu bergeser dari ketaksadarannya, bahwa ia betul-betul hidup di bawah rezim kapitalismenasional-global, mampu melihat bahwa rentetan ketertindasan merupakan akibat dari sebab sistem ekonomi-politik yang kapitalistik―diamana setiap praktik kekuasaan akan cenderung mengeksploitasi sumber-sumber agraria, merampas ruang hidup, menyebabkan krisis ekologi berkepanjangan seperti banjir dan lainnya, pada puncaknya rakyat yang menanggung kesemuanya.

Maka dari itu, PMII harus berada pada keberanian membawa misi mulia-nya untuk membebaskan umat manusia dari jurang kemelaratan dan kemiskinan dengan tetap setia di front  garis perjuangan bersama rakyat.

Citra Diri PMII di Usia yang Riskan Mengidap Segala Penyakit

Ini bagian yang enggan―untuk dibaca, fenomena diatas merupakan satu dari banyak hal yang tidak mampu dibaca secara utuh oleh PMII sebagai satu entitas organisasi intelektual. Bisa dikatakan kehilangan citra diri, atau mungkin saja jika di ilustrasikan, citra diri PMII seperti manusia yang besar kepalanya, kecil tubuh―kakinya, dan antena di atas kepalanya. Terlalu sarkas tapi inilah adanya:

Pertama banyak kader-intelek yang lahir dari rahim PMII, namun tidak memiliki kehadiran yang ajeg-hampa dalam menjawab kesenjangan sosial, seakan ilmu dan amal saling menegasikan satu sama-lain.

Padahal dalam islam, Iman-Ilmu-Amal, keyakinan terhadap Kalam tuhan sebagai iman bukan saja dihafalkan melainkan harus ditarik (transformasi) pada wilayah praksis­―mampu beradaptasi pada problem sosial. Maka dari itu, Islam tidak pernah membenarkan suatu realitas umat muslim yang hidup diatas kesenjangan dan kemelaratan umat-muslim lainya.

Kedua banyak intelektual-handal tapi melacurkan diri pada kekuasan dan yang

Ketiga seorang intelektual menara gading yang sibuk menegasikan kerja-kerja voluntarisme yang dianggapnya kurang revolusioner. Figur intelektual semacam ini yang disebut V.I Lenin sebagai Radikal-Kemayu. Seorang intelektual yang sibuk men-tashih pengetahuan tanpa harus repot terlibat dalam urusan-urusan masyarakat yang berada pada garis-kerentanan.

Fenomena seperti ini dianggap sebagai realitas yang kerap kali terjadi pada kalangan aktivis―mengidap penyakit kekanak-kanakan (Leftism infantile disease) yaitu suatu heroisme romantis. Mereka menganggap revolusi (Terjebak pada jargon) akan rampung ketika aku yang berjuang. Aku-isme seperti inilah yang justru merusak, karena perjuangan jangka panjang―akhirnya ditundukkan pada kebutuhan pribadi seorang pemimpin yang tidak lama jangka hidupnya.

Dalam arti yang lebih sederhana, kita sampai pada satu refleksi bahwa kerja aktivisme yang dibangun masih terkooptasi oleh generasi sebelumnya yang telah lama mengkroni―hegemonik atau pada titik ketaksadaran kita seoalah dikendalikan seperti robot suatu realitas sosial dalam imajinasi Youval, akibat  pesatnya kecerdasan buatan (Artificial Intellegent) .

Maka dari itu, kerja kolektivisme seorang intelektual harus bertransformasi dan melepaskan diri pada belenggu dan kesadaran semu sebagai alternatif di tengah problem sosial kemasyarakatan, dan memilih pergerakan sebagai jalan pembebasan―tidak terjebak dengan realitas semu yang silau.

Disisi lain, selama gerakan intelektual saling menegasikan, selama itu pula masing-masing saling sibuk merumuskan agenda sendiri, realitas civil politic jaga jarak dengan problem kemasyarakatan, disatu sisi kesadaran rakyat belum berada pada titik aksi maassa, sedangkan kesadaran PMII masih berada pada massa aksi yang sibuk piknik demokrasi dilapangan.

Tags: HARLAH PMIIKADER PERGERAKANPMII
Previous Post

Perkuat Kualitas Organisasi, IKPM JATIM DIY Silaturahim ke Dinas Pendidikan Jawa Timur

Next Post

ForkaTalk #2 – Usaha Sektor Perikanan untuk Milenial

Next Post
ForkaTalk #2 – Usaha Sektor Perikanan untuk Milenial

ForkaTalk #2 - Usaha Sektor Perikanan untuk Milenial

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

STAY CONNECTED

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Ragam Klasifikasi Koperasi yang Wajib Kamu Tahu

Ragam Klasifikasi Koperasi yang Wajib Kamu Tahu

July 15, 2025
Memahami Teknologi dan Proses Produksi Ramah Lingkungan

Memahami Teknologi dan Proses Produksi Ramah Lingkungan

July 7, 2025
Kenali Lima Elemen Kualitas Layanan dalam Bisnis

Kenali Lima Elemen Kualitas Layanan dalam Bisnis

July 15, 2025
Mengubah Masalah Menjadi Ide Usaha

Mengubah Masalah Menjadi Ide Usaha

July 13, 2025
Pelatihan Kewirausahaan Pembuatan Tempat Hand Sanitizer

Pelatihan Kewirausahaan Pembuatan Tempat Hand Sanitizer

4
Masyarakat Miskin: Antara Kenyang atau Pintar

Lomba Agustusan dan Judi Darat

2
Mahasiswa KKN-T MBKM Unisri Berikan Inovasi dalam Meningkatkan Omset UMKM Kripik Pare di Kalisoro

Mahasiswa KKN-T MBKM Unisri Berikan Inovasi dalam Meningkatkan Omset UMKM Kripik Pare di Kalisoro

1
Pelatihan Pembuatan Totebag Ecoprint dengan Daun di Sekitar Kita Pada Siswa SDN 2 Solodiran

Pelatihan Pembuatan Totebag Ecoprint dengan Daun di Sekitar Kita Pada Siswa SDN 2 Solodiran

1
Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Slamet Riyadi Laksanakan Magang di Setda Karanganyar

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Slamet Riyadi Laksanakan Magang di Setda Karanganyar

February 11, 2026
Kain yang Bicara:  Mode, Makna, dan Tanggung Jawab terhadap Bumi

PSN yang Pindah, Luka yang Tertinggal di Tanah Fakfak

January 22, 2026
Pelantikan Pengurus Ormawa FEBI UIN Surakarta dan Lahirnya Tonggak Baru BPKM-PS Ekonomi Syariah

Pelantikan Pengurus Ormawa FEBI UIN Surakarta dan Lahirnya Tonggak Baru BPKM-PS Ekonomi Syariah

January 21, 2026
Membaca Arah Bisnis Digital 2026; Dari Perilaku Konsumen, Strategi UMKM, hingga Inovasi Produk

Membaca Arah Bisnis Digital 2026; Dari Perilaku Konsumen, Strategi UMKM, hingga Inovasi Produk

January 8, 2026
  • Ragam Klasifikasi Koperasi yang Wajib Kamu Tahu

    Ragam Klasifikasi Koperasi yang Wajib Kamu Tahu

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Memahami Teknologi dan Proses Produksi Ramah Lingkungan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kenali Lima Elemen Kualitas Layanan dalam Bisnis

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mengubah Masalah Menjadi Ide Usaha

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Prinsip Koperasi Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
FORKA

A research and training center focus on economic empowerment base on social entrepreneurship and digital technology #IndonesiaBerdaya

Email: idforka@gmail.com
Whatsapp: 0851-5840-5844

RECENT NEWS

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Slamet Riyadi Laksanakan Magang di Setda Karanganyar

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Slamet Riyadi Laksanakan Magang di Setda Karanganyar

February 11, 2026
Kain yang Bicara:  Mode, Makna, dan Tanggung Jawab terhadap Bumi

PSN yang Pindah, Luka yang Tertinggal di Tanah Fakfak

January 22, 2026
Pelantikan Pengurus Ormawa FEBI UIN Surakarta dan Lahirnya Tonggak Baru BPKM-PS Ekonomi Syariah

Pelantikan Pengurus Ormawa FEBI UIN Surakarta dan Lahirnya Tonggak Baru BPKM-PS Ekonomi Syariah

January 21, 2026

POPULAR POST

Ragam Klasifikasi Koperasi yang Wajib Kamu Tahu

Ragam Klasifikasi Koperasi yang Wajib Kamu Tahu

July 15, 2025
Memahami Teknologi dan Proses Produksi Ramah Lingkungan

Memahami Teknologi dan Proses Produksi Ramah Lingkungan

July 7, 2025
Kenali Lima Elemen Kualitas Layanan dalam Bisnis

Kenali Lima Elemen Kualitas Layanan dalam Bisnis

July 15, 2025
  • TENTANG KAMI
  • KIRIM TULISAN
  • REDAKSI

© 2021 Forka Indonesia

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • FORKA INSTITUE
    • RISET
    • DISKUSI
  • SOCIAL ENTERPRISE
  • BERITA
  • OPINI
  • AKADEMI
  • BISNIS
  • KOMUNITAS
  • KIRIM TULISAN
  • REDAKSI
  • TENTANG KAMI

© 2021 Forka Indonesia