Di tengah ancaman krisis lingkungan global, pendidikan kewirausahaan berbasis ekonomi hijau muncul sebagai solusi strategis yang menggabungkan tujuan ekonomi dengan keberlanjutan lingkungan.
Sebuah studi terbaru oleh Sucipto dkk. (2025) mengeksplorasi bagaimana pendidikan dapat membentuk karakter kewirausahaan siswa SMA di Jawa Timur yang berorientasi pada praktik bisnis berkelanjutan.
Temuan ini relevan untuk Indonesia, di mana sektor UMKM sebagai penopang perekonomian perlu beradaptasi dengan tantangan lingkungan.
Studi ini melibatkan 400 siswa SMA di Jawa Timur dan menggunakan analisis Structural Equation Modelling (SEM).
Hasilnya menunjukkan bahwa pendidikan secara signifikan meningkatkan kesadaran siswa tentang prinsip ekonomi hijau dan mendorong minat kewirausahaan.
Namun, hubungan antara karakter kewirausahaan dan aksi wirausaha nyata belum signifikan secara statistik.
Artinya, meski siswa memahami nilai-nilai berkelanjutan, penerapannya dalam bisnis masih memerlukan pendekatan yang lebih praktis.
Salah satu temuan kunci adalah peran krusial pendidikan dalam membangun kesadaran lingkungan. Misalnya, siswa di Jawa Timur, yang tinggal di wilayah dengan sumber daya alam melimpah, menunjukkan peningkatan pemahaman tentang praktik bisnis ramah lingkungan setelah terpapar kurikulum berbasis proyek.
Baca Juga: Pilihan Terbaik untuk Menerbitkan Karyamu Menjadi Buku Ber-ISBN
Hal ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa pendidikan berkelanjutan dapat mengurangi jejak ekologis sekaligus membuka peluang ekonomi baru.
Namun, studi ini juga mengungkap tantangan menarik: pendidikan formal ternyata tidak secara langsung membentuk karakter wirausaha siswa.
Faktor seperti lingkungan keluarga dan interaksi sosial justru lebih berpengaruh. Ini menunjukkan bahwa sekolah perlu melibatkan orang tua dan komunitas dalam program pendidikan kewirausahaan.
Contohnya, kolaborasi dengan pelaku UMKM hijau atau proyek sosial berbasis lingkungan bisa menjadi jembatan antara teori dan praktik.
Ekonomi hijau sendiri terbukti berkontribusi pada pengembangan karakter siswa, seperti kreativitas, ketahanan mental, dan tanggung jawab sosial.
Sayangnya, hubungan antara ekonomi hijau dan minat berwirausaha belum kuat. Menurut peneliti, hal ini disebabkan oleh kurangnya keterlibatan emosional dan praktik langsung dalam pembelajaran.
Siswa mungkin paham konsep bisnis berkelanjutan, tetapi belum tentu termotivasi untuk menjalankannya.
Untuk mengatasi gap ini, studi merekomendasikan pendekatan pembelajaran yang lebih holistik. Misalnya, dengan memperbanyak business incubator di sekolah, kompetisi ide bisnis hijau, atau magang di UMKM yang menerapkan prinsip ekonomi sirkular.
Guru juga perlu dilatih untuk mengintegrasikan studi kasus nyata ke dalam kurikulum, seperti kisah sukses pengusaha daur ulang atau energi terbarukan.
Temuan ini memiliki implikasi penting bagi pembuat kebijakan. Pemerintah daerah bisa mendorong pelatihan guru, menyediakan insentif bagi sekolah yang mengadopsi kurikulum hijau, atau membangun kemitraan dengan sektor swasta.
Di tingkat nasional, integrasi ekonomi hijau ke dalam pendidikan kewirausahaan bisa menjadi langkah strategis untuk mencapai target pembangunan berkelanjutan (SDGs).
Pada akhirnya, membangun generasi wirausaha yang sadar lingkungan tidak bisa hanya mengandalkan sekolah. Dibutuhkan ekosistem yang melibatkan keluarga, komunitas, dan dunia bisnis.
Dengan kolaborasi ini, pendidikan kewirausahaan hijau tidak hanya akan melahirkan pebisnis sukses, tetapi juga agen perubahan yang peduli masa depan bumi.
Langkah kecil seperti proyek daur ulang sampah atau kampanye penghematan energi di sekolah bisa menjadi titik awal yang powerful.











