Masalah kekinian di Indonesia ini adalah masyarakatnya terlalu gampang percaya. Dampaknya banyak sekali penipuan, pembodohan dan penyimpangan dimana-mana. Ini bukan masalah sepele. Sebab menjadi wujud dampak rendahnya literasi, nalar kritis, bahkan keputusasaan hidup.
Jangankan orang mengaku keturunan nabi, orang mengaku nabi bahkan mengaku malaikat ada saja yang percaya. Banyak juga yang bersedia menjadi pengikutnya. Meskipun di ujung kisahnya, mereka ditangkap polisi dan mengakui kesalahannya. Aneh.
Kasus kontemporer, ada orang ngaku bisa berbicara dengan semut, bisa menggandakan uang, atau melakukan penyembuhan dengan hal-hal supranatural — banyak juga pengikutnya.
Itu yang konvensional. Sementara banyak pula kasus yang menggunakan teknologi terbaru.
Berapa puluh ribu orang yang tertipu iming iming pinjaman online, judi online, sampai yang terbaru sebuah start-up teknologi yang berani membayar 800 ribu untuk yang bersedia difoto retina matanya – ribuan orang berbondong-bondong antre di Bandung.
Mereka mungkin gak berpikir, “untuk apa nanti data tubuh tersebut, asal dapat uang lumayanlah”. Padahal di industri teknologi ini lekat sekali istilah: kalau sebuah produk (atau platform) berbiaya gratis, tis, tis – maka kamu (penggunanya) adalah sejatinya produk mereka.
Latar belakang sosial berupa literasi rendah, nalar kritis nihil, taqlid buta dan hidup putus asa inilah yang mustinya diselesaikan bersama. Ini masalah kolektif kita. Selain juga harus ada upaya serius untuk menghentikan aksi penipuan, pembodohan dan bahkan pidana dari pelakunya – siapapun mereka.
Mulai dari diri sendiri, mari banyak membaca buku, artikel ilmiah, atau kitab-kitab yang mu’tabarah (standar). Sambil memperluas informasi dari media-media yang kredibel.
Selanjutnya wajib ‘dipikir, pikir, pikir dulu’ sebelum mengambil sikap. Anggap saja ini bagian dari ijtihad kecil kita. Tanyakan juga pada nurani (istifta’ qalb), juga berdoa semoga selalu diberikan bimbingan hidup dalam hidayah dan jalan yang lurus.













