Sukoharjo, 28 September 2025 – Dalam semangat merawat tradisi kaderisasi yang progresif, PMII Rayon Mohammad Hatta kembali menghidupkan energi pergerakan melalui Kelas Candradimuka, sebuah forum pendalaman intelektual yang diarahkan untuk merombak cara berpikir kader dan mengembalikan PMII pada akar gerakannya: keberanian membaca realitas dan keteguhan memperjuangkan nilai.
Bertempat di Pendopo Kantor Desa Ngabeyan, Kartasura, kegiatan ini menghadirkan suasana yang intens, penuh diskusi, penuh tanya, penuh pergulatan pikiran, sebuah atmosfer yang menjadi ciri khas ruang-ruang tempaan kader PMII.
Kelas ini diinisiasi sebagai respons terhadap kondisi objektif PMII hari ini, ketika banyak kader bergerak tanpa basis pengetahuan yang kokoh, ketika wacana-wacana besar dunia mempengaruhi mahasiswa tanpa disadari, dan ketika ruang dialektika perlahan tergantikan oleh seremonialisme organisasi.
Di titik inilah Rayon Mohammad Hatta menegaskan bahwa gerakan tidak boleh dipisahkan dari cara berpikir; bahwa perubahan hanya dapat terjadi jika kader memiliki keberanian untuk mempersoalkan, menafsir, dan memahami dunia secara kritis.
Forum dibuka dengan pengantar mengenai filsafat sebagai pangkal gerak. Peserta diajak menyelami kritisisme, kemampuan mempertanyakan segala bentuk otoritas, tradisi, dan pengetahuan yang diwariskan. Kritisisme dihadirkan sebagai jalan untuk membebaskan nalar dari kungkungan dogma dan kebiasaan berpikir yang stagnan.
Dalam suasana diskusi yang tajam, sahabat/i mulai menyadari bahwa kader PMII harus memiliki keberanian untuk tidak menerima sesuatu begitu saja; bahwa setiap konsep, setiap keputusan, bahkan setiap arah gerakan harus diuji secara kritis.
Diskusi kemudian bergerak pada penguatan rasionalisme sebagai fondasi berpikir kader. Rasionalisme dipahami bukan sekadar “menggunakan logika”, tetapi kemampuan membangun argumen yang runtut, melihat hubungan sebab-akibat, serta menimbang suatu persoalan dengan nalar yang jernih.
Peserta berdialog tentang bagaimana rasionalisme seharusnya menjadi etos kader PMII, terutama ketika berhadapan dengan isu-isu kampus, konflik organisasi, maupun dinamika sosial.
Di sini, paradigma PMII dibaca ulang melalui logika gerakan, bahwa nilai keislaman, kemanusiaan, dan keindonesiaan harus dipahami bukan hanya sebagai identitas, tetapi sebagai kerangka rasional dalam menentukan sikap.
Dalam bagian yang lebih mendalam, forum memperkenalkan empirisme, yaitu keberanian membaca realitas sebagaimana adanya. Peserta diajak melihat kondisi PMII secara konkret: bagaimana pola kaderisasi berjalan, bagaimana relasi antar-anggota terbangun, bagaimana PMII dipersepsikan oleh mahasiswa luar, dan bagaimana problem sosial di sekitar kampus menuntut respons yang nyata.
Empirisme menjadi penegas bahwa gerakan tidak boleh berhenti pada wacana; ia harus berakar pada fakta, pengalaman, dan problem nyata yang dihadapi masyarakat. Dari sini, peserta mulai menyadari pentingnya menyatukan pengalaman lapangan dengan pemikiran filosofis, sebuah kombinasi yang menjadi ciri khas gerakan PMII sejak masa awal.
Setelah fondasi kritisisme, rasionalisme, dan empirisme terbangun, forum memasuki dialektika lebih luas mengenai peta epistemologi dan ideologi dunia, mulai dari liberalisme yang menjanjikan kebebasan individu, sosialisme yang berbicara tentang keadilan struktural, hingga populisme dan gelombang fundamentalisme yang mempengaruhi cara masyarakat berpikir dan bertindak.

Peserta melihat bagaimana pertarungan gagasan global ini masuk ke ruang digital, mempengaruhi opini publik, bahkan membentuk kultur mahasiswa hari ini. Diskusi menjadi sangat dinamis ketika sahabat/i membandingkan realitas tersebut dengan posisi PMII sebagai gerakan intelektual yang berpihak pada kemanusiaan. Selama forum berlangsung, ruang kelas berubah menjadi arena dialektika yang hidup.
Para peserta tidak hanya bertanya, tetapi juga mempertanyakan ulang pemahaman mereka sendiri. Mereka mendiskusikan bagaimana PMII harus bergerak di tengah krisis nalar publik, bagaimana organisasi harus memperkuat tradisi intelektualnya, dan bagaimana kader dapat membangun basis pengetahuan yang mampu menandingi arus wacana global.
Pada momen-momen tertentu, terlihat bahwa beberapa sahabat/i mulai memahami makna pergerakan bukan sebagai aktivitas seremonial, melainkan sebagai proses panjang membangun kesadaran.
Kegiatan ini ditutup dengan refleksi kolektif mengenai arah gerakan PMII ke depan. Para sahabat/i menyampaikan pandangan tentang pentingnya membangun kader yang tidak hanya aktif, tetapi juga sadar; tidak hanya hadir dalam kegiatan, tetapi juga hadir dalam ruang intelektual; tidak hanya bergerak karena instruksi, tetapi bergerak karena keyakinan dan pemahaman.
Kelas Candradimuka menjadi bukti bahwa perubahan konstruksi berpikir adalah langkah paling strategis bagi sebuah gerakan yang ingin tetap relevan dan kokoh menghadapi masa depan. Dengan terselenggaranya forum ini, PMII Rayon Mohammad Hatta menegaskan kembali komitmennya bahwa gerakan harus berpijak pada nalar, nalar yang kritis, rasional, dan empiris.
Tiga basis inilah yang akan memastikan bahwa kader PMII bukan sekadar bagian dari organisasi, tetapi bagian dari sejarah perubahan. Baranya telah dinyalakan, dan tinggal bagaimana setiap kader menjaga apinya tetap menyala.













