Karangwungu, Klaten – Di era digital yang serba cepat, anak-anak semakin akrab dengan ponsel sejak usia dini. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa 33,44% anak usia dini di Indonesia telah menggunakan gadget, dengan rincian 25,5% berusia 0–4 tahun dan 52,76% berusia 5–6 tahun.
Fenomena ini menimbulkan keprihatinan dan mendorong pentingnya edukasi pengasuhan berbasis kesadaran digital.
Sebagai respons atas isu tersebut, mahasiswa KKN 159 dan KKN 160 UIN Raden Mas Said Surakarta berkolaborasi menyelenggarakan Seminar Parenting bertajuk:
“Mengatasi Kecanduan Ponsel pada Anak: Strategi Orang Tua dan Pendidik di Era Digital” pada Sabtu, 26 Juli 2024, bertempat di Balai Desa Karangwungu, Kecamatan Karangdowo, Kabupaten Klaten.
Acara ini dihadiri oleh perangkat desa, guru SDN 3 Karangwungu, guru MIM Karangwungu, bidan desa, serta perwakilan ibu dan anak dari RW 1 hingga RW 8 yang aktif mengikuti kegiatan posyandu.
Petugas yang bertindak sebagai moderator adalah Tiffani Latifatul, mahasiswi UIN Raden Mas Said Surakarta.
Seminar menghadirkan narasumber utama Ibu Gadis Deslinda, S.Psi., M.Psi., seorang psikolog, konselor, dan dosen psikologi di UIN Raden Mas Said Surakarta.
Dalam pemaparannya, beliau menjelaskan bahwa kecanduan gadget pada anak bukan hal sepele.
Penggunaan yang tidak terkendali dapat mengganggu tumbuh kembang anak secara fisik, mental, hingga sosial.
Beberapa dampak negatif yang dijelaskan antara lain adalah penurunan perkembangan otak, terutama pada usia emas 0–5 tahun, paparan radiasi yang berisiko merusak sel otak, dan menurunnya kemampuan berinteraksi secara sosial.
Baca Juga: Lokapasar terbaik untuk belanja buku referensi perkuliahan
Anak-anak yang terlalu lama bermain gadget juga cenderung kehilangan minat untuk bermain di alam terbuka, menjadi kurang aktif secara fisik, mengalami tantrum atau perilaku agresif, dan berisiko terkena obesitas, gangguan penglihatan, hingga penyakit mental seperti depresi atau gangguan bipolar.
“Anak-anak yang terlalu lama bermain gadget lebih rentan mengalami gangguan komunikasi, malas bergerak, dan memiliki risiko tantrum yang tinggi. Ini akan berdampak panjang hingga mereka dewasa nanti,” tegas Ibu Gadis.
Untuk mengatasi hal ini, beliau menyarankan lima strategi utama bagi orang tua dan pendidik, yaitu:
- Meningkatkan literasi digital,
- Menetapkan aturan penggunaan teknologi,
- Menggunakan teknologi sebagai alat pembelajaran,
- Menjaga keseimbangan aktivitas digital dan non-digital,
- Membangun komunikasi terbuka dengan anak.
Beliau juga menekankan pentingnya peran sekolah dalam membatasi waktu layar bagi siswa, memberikan edukasi terkait teknologi, menyelenggarakan aktivitas alternatif yang mendukung tumbuh kembang anak, serta mendorong keterlibatan aktif orang tua dalam proses pendidikan.
Selain itu, kerja sama antara guru dan wali murid sangat dibutuhkan untuk menciptakan pola pengasuhan yang selaras dan berkesinambungan di rumah maupun di sekolah.
Seminar berjalan interaktif, dengan banyak peserta yang antusias berdiskusi dan berbagi pengalaman seputar pengasuhan di era digital.
Materi yang disampaikan dengan lugas dan menyentuh kehidupan sehari-hari membuat suasana terasa hangat dan membangun.
Tak sedikit peserta yang merasa mendapatkan wawasan baru dan solusi praktis yang dapat langsung diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Acara ditutup dengan pesan penting bahwa gadget bukanlah musuh, namun harus digunakan dengan bijak.
Orang tua perlu hadir, membimbing, dan menjadi contoh dalam penggunaan teknologi.
Dengan sinergi antara keluarga, sekolah, dan lingkungan, anak-anak diharapkan dapat tumbuh menjadi pribadi yang cerdas digital sekaligus sehat secara mental, sosial, dan emosional.














