Klaten – Selain berfokus pada dunia pendidikan, mahasiswa KKN UNISRI kelompok 56 juga melaksanakan program lain yang tak kalah penting: pembuatan plang perbatasan desa. Program ini mungkin terlihat sederhana, namun memiliki makna strategis bagi masyarakat.
Batas wilayah sering kali hanya dianggap sebagai urusan administratif. Namun, bagi sebuah desa, plang batas adalah simbol identitas. Dari situlah masyarakat tahu di mana mereka berpijak, dan bagaimana mereka menjaga ruang hidupnya. Hal inilah yang mendorong mahasiswa KKN UNISRI kelompok 56 bersama warga Desa Nangsri untuk membangun plang perbatasan desa.
Desa Nangsri berbatasan langsung dengan beberapa wilayah lain di Kecamatan Manisrenggo. Selama ini, titik batas desa belum memiliki penanda yang jelas. Kehadiran plang perbatasan akhirnya menjadi solusi, sekaligus upaya mempertegas identitas administratif Desa Nangsri.
Proses pembuatan plang dilakukan dengan melibatkan perangkat desa dan masyarakat. Mahasiswa berperan sebagai tenaga kreatif sekaligus penggerak kegiatan, sementara warga ikut serta dalam pemasangan. Kerja sama ini menunjukkan semangat gotong royong yang masih kuat terjaga di desa.
Plang dipasang di titik-titik strategis yang sering dilalui masyarakat maupun pendatang. Dengan begitu, selain menjadi penanda batas wilayah, plang juga membantu memberikan informasi lokasi desa bagi orang luar yang berkunjung.
Baca Juga: Marketplace terbaik untuk belanja buku referensi perkuliahan
Warga menyambut positif program ini. Bagi mereka, plang bukan sekadar papan bertuliskan nama desa. Lebih dari itu, ia menjadi simbol kebanggaan, identitas, dan bukti bahwa mahasiswa serta masyarakat bisa bekerja sama menghasilkan sesuatu yang bermanfaat.
Keberadaan plang juga diharapkan dapat memperkuat tata ruang desa. Batas yang jelas akan memudahkan masyarakat dalam berbagai urusan administratif maupun pembangunan. Hal ini menunjukkan bahwa program KKN tidak hanya berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi benar-benar memberi dampak jangka panjang bagi desa.

Bagi mahasiswa, pengalaman ini menjadi pelajaran penting. Mereka belajar bahwa pembangunan masyarakat tidak hanya soal ide besar, tetapi juga tindakan nyata yang menjawab kebutuhan sehari-hari. Dengan membuat plang, mereka membantu memperjelas batas desa sekaligus memperkokoh rasa kebersamaan warga.
Program plang perbatasan di Desa Nangsri akhirnya menjadi bukti sederhana namun bermakna. Bahwa dari papan yang berdiri kokoh di perbatasan, terpatri identitas desa, semangat gotong royong, dan jejak pengabdian mahasiswa yang akan selalu dikenang masyarakat.
Papan plang yang berdiri kokoh di perbatasan bukan hanya penanda lokasi. Ia adalah bukti nyata sinergi mahasiswa, pemerintah desa, dan masyarakat dalam membangun identitas bersama. Dari kegiatan sederhana ini, kita bisa belajar bahwa pembangunan desa bukan hanya tentang proyek besar, tetapi juga tentang tindakan kecil yang berdampak nyata.
Plang itu akan terus berdiri, menjadi pengingat bahwa kebersamaan adalah kekuatan utama masyarakat desa. Dan bagi mahasiswa, ia menjadi jejak pengabdian yang akan selalu diingat sebagai bagian dari perjalanan mereka di Desa Nangsri.













