Desa Nangsri, Manisrenggo, Klaten – Selama satu bulan terakhir menjadi lebih semarak dengan hadirnya mahasiswa Universitas Slamet Riyadi (UNISRI) Surakarta. Melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN), mahasiswa kelompok 56 berusaha menghadirkan perubahan kecil namun berarti di tengah masyarakat.
Sekolah dasar bukan sekadar tempat belajar membaca dan berhitung. Ia adalah ruang tumbuh bagi anak-anak, tempat mereka berimajinasi, bermain, sekaligus belajar arti kebersamaan. Karena itulah, suasana sekolah yang ceria menjadi penting agar siswa merasa betah dan termotivasi untuk belajar. Inilah yang coba diwujudkan mahasiswa Universitas Slamet Riyadi (UNISRI) Surakarta melalui kegiatan KKN di Desa Nangsri, Kecamatan Manisrenggo, Klaten.

Salah satu program utama mereka adalah penataan lingkungan sekolah dasar yang dikemas dalam kegiatan bertajuk “Bersama Berkarya, Mencipta Sekolah Ceria dan Menyemarakkan HUT RI”. Program ini lahir dari kebutuhan sederhana: bagaimana menciptakan suasana belajar yang lebih ceria, ramah anak, dan dapat meningkatkan motivasi siswa.
Baca Juga: Marketplace terbaik untuk belanja buku referensi perkuliahan
Mahasiswa pun bekerja sama dengan pihak sekolah untuk melakukan berbagai kegiatan. Area halaman dicat ulang dengan pola permainan edukatif berwarna cerah. Pola itu bukan sekadar hiasan, tetapi juga dapat digunakan sebagai media belajar sekaligus permainan siswa saat jam istirahat. Lingkungan sekolah juga semakin segar dengan tambahan tanaman hias yang ditata di beberapa sudut, sehingga menghadirkan nuansa asri dan nyaman.
Kegiatan ini bertepatan dengan bulan Agustus, sehingga mahasiswa juga menggelar lomba peringatan HUT RI bersama siswa. Mulai dari lomba balap kelereng, tarik tambang, hingga lomba-lomba tradisional lainnya sukses digelar. Antusiasme siswa sangat tinggi, bahkan membuat suasana awalnya sempat sulit dikendalikan. Ada yang berebut giliran, ada yang terlalu bersemangat hingga suasana menjadi kurang tertib.

Namun berkat koordinasi dengan guru, solusi cepat dapat ditemukan. Guru akhirnya lebih terlibat mendampingi siswa, sementara mahasiswa membagi peran sebagai panitia secara lebih terstruktur. Dengan langkah tersebut, kegiatan berjalan kembali kondusif hingga seluruh lomba selesai.
Hasil dari kegiatan ini tidak hanya tampak secara fisik, tetapi juga terasa dalam semangat siswa. Lingkungan sekolah yang lebih indah membuat anak-anak lebih betah belajar. Mereka memiliki ruang yang ceria untuk bermain dan berekspresi. Peringatan HUT RI pun berlangsung lebih meriah, penuh makna kebersamaan, sportivitas, sekaligus rasa nasionalisme.
Bagi mahasiswa KKN, pengalaman ini menjadi sarana belajar di luar kampus. Mereka tidak hanya menjalankan program, tetapi juga belajar bagaimana bekerja sama, mengelola kegiatan, dan berinteraksi dengan masyarakat desa. Nilai gotong royong yang tercermin dalam kolaborasi mahasiswa, guru, dan siswa menjadi pengalaman berharga yang tidak akan mereka lupakan.
Kehadiran mahasiswa di sekolah dasar Desa Nangsri membuktikan bahwa perubahan tidak selalu datang dari hal besar. Kadang, langkah sederhana seperti mengecat halaman, menanam bunga, atau mengadakan lomba bisa membawa suasana baru yang penuh semangat. Dan bagi anak-anak, itulah kenangan masa kecil yang akan mereka simpan sepanjang hidup.
Program sederhana ini menunjukkan bahwa pengabdian tidak harus mewah. Mengecat halaman, menata bunga, hingga mengadakan lomba 17 Agustus ternyata mampu membawa suasana baru di sekolah dasar Desa Nangsri. Bagi siswa, kegiatan ini menumbuhkan semangat belajar dan rasa cinta tanah air. Bagi mahasiswa, pengalaman ini menjadi bekal berharga tentang arti gotong royong dan kerja sama dengan masyarakat.















