Kita harus menjadi masyarakat yang menjunjung tinggi ketertiban dan keharmonisan sosial, seiring kita berharap negara bebas dari korupsi, kolusi, dan nepotisme.
Kita harus terus melatih diri untuk menjadi individu yang bermanfaat bagi lingkungan tinggal kita, sebagaimana kita ingin pejabat dan pemimpin-pemimpin kita memberikan contoh keteladanannya.
Kita harus berlatih berbicara dan menulis yang baik, tidak provokatif, tidak mengandung hoaks, dan misinformasi; sebagaimana kita berharap pemimpin di ibu kota memberikan pernyataan yang benar, menjadi solusi dan motivasi bagi rakyatnya.
Kita perlu sabar menghadapi ujian dan ketidakpastian ekonomi nasional maupun global, sebagaimana kita berharap para pemimpin mengupayakan sungguh-sungguh kesejahteraan seluruh rakyatnya.
Kita butuh aparat kepolisian dan militer yang mengayomi serta melindungi, sebagaimana kita sukarela mengungkap dan harus tertib membayar pajak; kendaraan, PBB, PPn, PPnBM, PPh, Cukai, dkk.
Kita tidak masalah presiden dan menterinya meluapkan kebahagiaan dengan musik-musik di istana, sebagaimana kita berharap anak-anak muda kita punya harapan akan masa depan dan tidak berdesakan hingga pingsan saat mencari kerja.
Sebagai bangsa yang beranjak tua dan melewati beragam peristiwa besar, kita musti terus belajar bahwa biaya ketidakharmonisan ini sungguh mahal; nyawa, ekonomi, sosial, hingga permusuhan.
Satu-satunya yang membuat kita bersama ialah kesadaran bawah negara ini adalah kontrak sosial; kita bersepakat hidup bersama dengan satu identitas Indonesia, dengan segala upaya saling mengisi, memberi, melindungi, membutuhkan, berbagi, berbuat baik dan beragam konsekuensi lainnya.
Siapapun kita, apapun profesi dan latar belakang kita – pelajar, wiraswasta, polisi, dokter, pemuka agama, tentara, nelayan, dosen, mahasiswa – sama-sama orang yang hidup, makan minum, buang air dan kelak dikebumikan di tanah Indonesia.














