Taskombang, Klaten – Di tengah isu global tentang bahaya penggunaan pestisida kimia, muncul satu inisiatif sederhana namun penuh makna dari Desa Taskombang, Kecamatan Manisrenggo, Kabupaten Klaten. Program bertajuk “Sosialisasi dan Pembuatan Pestisida Nabati dari Daun Pepaya: Solusi Ramah Lingkungan untuk Hortikultura”.
Program ini diinisiasi oleh Lutfiana Embun Cahyanti, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) Universitas Slamet Riyadi (UNISRI) Surakarta 2025 Kelompok 61, bekerja sama dengan Kelompok Wanita Tani (KWT) dan ibu-ibu PKK setempat pada Rabu (06/08/2025).
Pada kesempatan ini, Embun juga menyampaikan materi mengenai bahaya penggunaan pestisida kimia dalam jangka panjang.
Selain dapat menyebabkan pencemaran tanah dan air, residu pestisida kimia juga berpotensi merusak kesehatan manusia, mulai dari iritasi kulit hingga risiko gangguan organ tubuh bila terakumulasi.
Materi ini menjadi pengantar penting sebelum praktik pembuatan pestisida nabati, agar masyarakat semakin sadar akan pentingnya beralih pada solusi yang lebih aman.
Baca Juga: Lokapasar terbaik untuk belanja buku referensi perkuliahan
Sekilas, daun pepaya mungkin hanya dianggap sebagai limbah pekarangan atau pakan ternak. Namun, siapa sangka, daun pepaya mengandung senyawa papain, alkaloid, dan tanin yang memiliki sifat insektisida alami.
Senyawa-senyawa ini mampu mengganggu sistem pencernaan hama seperti ulat, kutu daun, hingga serangga perusak tanaman, tanpa mencemari lingkungan.
Keunggulan lainnya, daun pepaya sangat mudah didapat karena hampir setiap rumah di desa memilikinya, sehingga petani tidak perlu mengeluarkan biaya besar untuk membeli bahan baku.
Dalam kegiatan tersebut, Embun memandu warga mempraktikkan langsung pembuatan pestisida nabati. Bahan yang digunakan, antara lain :
- Daun pepaya segar
- 2 liter ai bersih
- 2 sendok makan deterjen cair/sabun cuci piring
Langkah pembuatannya :
- Cuci daun pepaya hingga bersih.
- Masukkan ke dalam ember dan tambahkan air secukupnya.
- Remas-remas daun selama ±10 menit hingga air berubah warna hijau pekat.
- Saring air rendaman menggunakan kain bersih untuk memisahkan ampas.
- Diamkan rendaman selama ±12 jam di tempat yang teduh.
- Setelah didiamkan, campurkan pestisida nabati dan air bersih dengan perbandingan 1:1.
- Kemudian, beri 1-2 sendok makan sabun dan aduk hingga rata.
- Pestisida nabati daun pepaya siap digunakan!
Cara pengaplikasian :
Pestisida nabati ini digunakan dengan cara disemprotkan secara merata ke bagian daun tanaman, khususnya di bagian bawah daun yang sering menjadi tempat hama bersembunyi. Penyemprotan sebaiknya dilakukan pada pagi atau sore hari agar hasil lebih efektif dan tidak merusak tanaman.
Antusiasme peserta begitu terasa. Ibu-ibu yang hadir tampak semangat, bahkan beberapa melontarkan pertanyaan seperti, “Kalau untuk cabai rawit cocok nggak?” atau “Bisa dipakai di daun kol biar nggak bolong-bolong, ya?” Suasana ini memperlihatkan bahwa kegiatan bukan sekadar transfer ilmu, tetapi juga mempererat kebersamaan.
Menurut Embun, manfaat dari program ini tidak hanya sebatas pengendalian hama. Lebih dari itu, masyarakat didorong menjadi lebih mandiri dalam memenuhi kebutuhan pertaniannya.
“Kami ingin memberikan solusi sederhana namun bermanfaat, agar petani maupun masyarakat bisa beralih pada penggunaan pestisida nabati yang lebih murah, aman, dan berkelanjutan,” ungkapnya.

Kegiatan ini sekaligus membuktikan bahwa perubahan besar bisa dimulai dari langkah kecil. Harapannya, dari sehelai daun pepaya yang tumbuh di pekarangan rumah, lahirlah inovasi dan solusi pertanian yang sehat, murah, dan ramah lingkungan.
KKN PPM UNISRI 2025 “Sinergi Universitas, Pemerintah, dan Masyarakat Desa: Penguatan Lokal Guna Mewujudkan Desa Mandiri dan Berkelanjutan”
*****
Penulis reportase: Lutfiana Embun Cahyanti (Mahasiswa Fakultas Pertanian, Program Studi Agroteknologi UNISRI), dengan Dosen Pembimbing Lapangan Agung Yudhistira Nugroho, S.IP., M.A














