Perkembangan kecerdasan buatan (AI) membawa angin segar bagi pengelolaan energi berkelanjutan di perguruan tinggi, termasuk di wilayah dengan tantangan infrastruktur seperti Palestina.
Penelitian terbaru oleh Ayyash dan Salah (2025) mengungkap bahwa AI tidak hanya meningkatkan efisiensi energi tetapi juga mendukung tujuan global seperti Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).
Namun, keberhasilan integrasi AI bergantung pada kesiapan dosen dan institusi untuk mengadopsi teknologi ini.
AI menawarkan solusi cerdas untuk memantau dan mengoptimalkan penggunaan energi di kampus.
Dengan teknologi seperti predictive analytics dan IoT, AI dapat menganalisis pola konsumsi energi, memprediksi kebutuhan, serta mengurangi jejak karbon.
Contohnya, sistem AI di Nanyang Technological University, Singapura, berhasil menurunkan konsumsi energi hingga 30%.
Di Palestina, peluang ini menjanjikan meski masih terbentur tantangan finansial dan teknis.
Studi ini mengidentifikasi empat faktor kunci yang memengaruhi niat dosen mengadopsi AI:
-
Kesiapan Teknologi: Infrastruktur dan pelatihan memadai meningkatkan kepercayaan diri dosen.
-
Manfaat yang Dirasakan: Efisiensi energi dan penghematan biaya menjadi motivasi utama.
-
Kesadaran Aplikasi AI: Pemahaman tentang kegunaan AI memperkuat minat adopsi.
-
Kendala Finansial: Biaya implementasi yang tinggi sering menjadi penghalang.
Niat dosen untuk menggunakan AI ternyata menjadi mediator kritis antara faktor-faktor di atas dan implementasi nyata.
Artinya, bahkan jika teknologi tersedia, tanpa dukungan aktif dari dosen, adopsi AI tidak akan optimal.
Pelatihan dan sosialisasi tentang manfaat AI bagi energi berkelanjutan menjadi kunci untuk membangun kesiapan mental dan teknis.
Keterbatasan dana adalah tantangan terbesar di Palestina. Namun, solusi seperti pendanaan hibrida (gabungan pemerintah-swasta), kerja sama internasional, atau insentif fiskal dapat membantu.
Misalnya, skema green grants atau kemitraan dengan perusahaan teknologi bisa mengurangi beban biaya awal.
Banyak dosen yang masih belum sepenuhnya memahami aplikasi AI di pengelolaan energi.
Baca Juga: Pilihan Terbaik untuk Menerbitkan Karyamu Menjadi Buku
Program pelatihan interaktif, lokakarya, dan kampanye digital (misalnya melalui media sosial) bisa menjadi sarana efektif untuk menyebarkan pengetahuan dan kisah sukses penerapan AI di kampus lain.
Penelitian ini merekomendasikan agar universitas menyusun roadmap implementasi AI yang terintegrasi dengan kebijakan keberlanjutan global seperti Deklarasi Talloires.
Pemerintah juga perlu merancang regulasi yang mendukung inisiatif green AI, termasuk insentif bagi kampus yang berinvestasi dalam teknologi ramah lingkungan.
Adopsi AI untuk energi berkelanjutan di Palestina bukanlah mimpi belaka, tetapi memerlukan kolaborasi multipihak.
Dengan mengatasi tantangan finansial, meningkatkan kesadaran, dan memperkuat infrastruktur, universitas-universitas di sana dapat menjadi pelopor green campus di Timur Tengah.
Langkah ini tidak hanya menghemat energi, tetapi juga menciptakan dampak jangka panjang bagi lingkungan dan pendidikan.














