Sukoharjo – 26 Agustus 2025, Pengurus Komisariat PMII Raden Mas Said (RMS) UIN Surakarta menggelar Diskursus Pergerakan di halaman Ma’had UIN Surakarta. Puluhan kader hingga puluhan mahasiswa baru hadir mengikuti forum yang dipantik oleh Sahabat Raha Bistara, dosen UIN sekaligus kader pergerakan, dengan moderator Sahabat Muklis.
Forum kali ini mengangkat kembali gagasan-gagasan Mahbub Djunaedi, intelektual sekaligus jurnalis yang dikenal lewat gaya satire-nya. Menurut Raha, Mahbub menghadirkan warna berbeda dalam dunia pergerakan, sebab ia tidak menggurui, melainkan mengajak pembacanya merenung dengan cara jenaka namun tajam.
“Dari Mahbub kita belajar bahwa pergerakan tidak harus kaku. Ia bisa cair, penuh humor, tapi tetap mampu menusuk jantung persoalan bangsa,” ujar Raha dalam paparannya.
Diskusi berkembang pada refleksi sejarah. Walaupun Mahbub lahir di Jakarta, ia lama menimba ilmu di Solo yang kala itu menjadi pusat intelektual dan pergerakan. Namun, banyak kader PMII saat ini justru lupa atau bahkan tidak tahu siapa jangkar pergerakan mereka.
Baca juga: Perintis Vs Pewaris; Keduanya Baik Selagi Visinya Menjadi Entrepreneur
Notulensi mencatat beberapa poin penting. Pertama, masih banyak kader yang hanya terkesima dengan tokoh senior populer masa kini, tetapi abai terhadap Mahbub sebagai jangkar intelektual PMII. Kedua, sejak wafatnya Mahbub, belum ada lagi kader yang memiliki kepiawaian sastra dan bahasa sekuat dirinya.
Selain itu, forum juga menyoroti perbedaan wajah pergerakan Solo dahulu dan sekarang. Jika dulu Solo dikenal melahirkan banyak intelektual progresif, kini gairah itu mulai meredup. Bahkan, sejarah pergerakan Solo dan Yogyakarta berbeda: di Yogya, kaum kiri masih terpelihara dengan baik oleh Sultan, sedangkan di Solo tradisi itu tidak bertahan.
“Di titik inilah kita perlu kembali merefleksikan Mahbub, bukan untuk mengkultuskan, melainkan menempatkannya sebagai jangkar keilmuan dan pergerakan,” tegas Raha.
Diskusi ditutup dengan ajakan bersama: menghadirkan kembali spirit Mahbub Djunaedi, ringan dalam bahasa, serius dalam gagasan, ke dalam ruang-ruang kaderisasi PMII













