Penulis: Luthfi Hamdani
Tulisan ini terinspirasi dari pengalaman hari Jumat dan Sabtu (11 dan 12 Juli) kemarin. Sebuah akhir pekan yang menyenangkan di kota Solo.
Hari Jumat malam, saya berboncengan dengan anak dan istri naik sepeda motor dari rumah menuju Night Market Ngarsopuro. Setelah memarkir sepeda motor, kami berjalan melewati koridor pedagang menuju halaman pasar Triwindu.
Di halaman pasar yang berisi penjual beragam barang antik ini, tengah diselenggarakan konser musik bertema Road to #2 Solo Keroncong Festival 2025.
Selama hampir tiga jam, kami duduk di pojok menikmati penampilan musik keroncong dari Orkes Keroncong Perkumpulan Masyarakat Surakarta (PMS) dan Orkes Keroncong Rajamala. Acara berlangsung meriah dengan banyak penonton turut hadir.
Hari Sabtu, penulis kembali berangkat dengan sepeda motor menuju Jalan Slamet Riyadi, Surakarta.
Pukul 16.00 WIB kami bersama ratusan atau ribuan warga Solo beramai-ramai menunggu di pinggir jalan untuk menyaksikan penampil yang mempesona pada event Solo Batik Carnival ke-16.
Sebelum pulang, kami mampir dan belanja kuliner di event Pasar-Pasaran by Hello Market di halaman Paragon Mall.
Sambil melanjutkan perjalanan pulang, penulis melewati keramaian coffee shop di sepanjang Jalan Slamet Riyadi, pedagang kaki lima, juga ramainya warga yang memadati lapangan depan Balai Kota Surakarta dan sepanjang area Pasar Gedhe.
Terbersit sebuah gumam dalam hati: “Tinggal di Kota Solo ini, kalau malam Minggu tidak keluar rumah, pasti sangat menyesal.”
Keseruan dua malam di akhir pekan ini tentu tidak lepas dari upaya Pemerintah Kota Surakarta pada sektor pariwisata sebagai salah satu roda penggerak ekonomi kota.
Event-event terbaru melengkapi modalitas historis kota Solo yang sudah kaya akan destinasi wisata budaya.
Menikmati geliat ekonomi kreatif dan keceriaan masyarakat beraktivitas di ruang-ruang publik, mengingatkan penulis pada buku memoir karya penulis kenamaan Ernest Hemingway.
Buku berjudul The Moveable Feast ditulis Hemingway selama tahun 1920-an dan diterbitkan pada tahun 1964 oleh Scribner’s (AS) dan Jonathan Cape (Inggris).
Hemingway menulis tentang tentang rutinitas sederhana seputar kopi, makanan, cuaca, menulis, dan jalanan Paris.
Dalam tulisan-tulisannya, kita seolah diajak berkunjung ke kafe-kafe yang menjadi pusat diskusi intelektual, perjuangan, serta keceriaan di tengah kesulitan ekonomi.
Baca Juga: Lokapasar terbaik untuk belanja buku referensi mata kuliah
Di tengah terus berkembangnya berita tentang pengangguran dan melemahnya beragam sektor industri di Indonesia, Solo seolah menemukan solusi yang membawa keceriaan.
Kota ini, baik pemerintah maupun masyarakatnya kompak berupaya mengembangkan pariwisata berbasis budaya dan kuliner, serta melibatkan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dalam ekosistem pariwisata.
Meskipun mayoritas masuk kategori sektor informal dengan segala kelemahannya, praktik ekonomi kreatif menjadi salah satu sektor ekonomi penting yang memacu pertumbuhan perekonomian di Kota Solo.

Laporan dari Badan Pembangunan Daerah Kota Surakarta tahun 2022 menyebutkan bahwa seni pertunjukan, kuliner, fesyen, dan kriya secara berurutan menempati prioritas utama subsektor ekonomi kreatif.
Merujuk pada artikel Hidayanti et al (2023) strategi pengembangan pariwisata dan ekonomi kreatif di Kota Surakarta ke depan meliputi penguatan kolaborasi antar-stakeholder untuk menciptakan program unggulan berbasis budaya dan kearifan lokal, peningkatan kualitas pelayanan dan sertifikasi CHSE.
Serta mendorong pemberdayaan masyarakat lokal, peningkatan kinerja kelompok sadar wisata, dan pemanfaatan teknologi digital untuk promosi serta pengembangan ekonomi kreatif.
Momentum keramaian event di Kota Surakarta ini harus terus dijaga guna menjaga peluang strategis Solo dikenal sebagai ‘festival city’ atau ‘city of festivals’ oleh masyarakat Indonesia maupun mancanegara.
Kedua istilah tersebut meminjam dari buku “Eventful Cities” yang ditulis oleh Greg Richard dan Robert Palmer pada tahun 2007.
Kedua penulis menyoroti pentingnya sebuah kota mengembangkan beragam event, sebab pada saat kondisi ekonomi tidak lagi dapat diprediksi, agar tetap kompetitif, kota-kota beralih ke strategi yang berfokus pada sumber daya bawaan mereka sendiri, seperti sejarah, ruang, energi dan bakat kreatif.
Kota Solo telah terbukti mampu ‘hidup’ dari suasana yang semarak, dan sudah begitu melekat dengan hidup penduduknya. Dengan segala sumber daya yang dimiliki, Kota Solo akan dan bahkan harus tetap ramai, untuk bergerak maju.














