Klaten — Desa Solodiran, Kecamatan Manisrenggo, Kabupaten Klaten, kini memiliki cerita baru yang menginspirasi. Di tengah keseharian masyarakat pedesaan yang erat dengan aktivitas pertanian dan tradisi budaya, hadir semangat baru dari dunia pendidikan. Melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN) PPM bertajuk English Fun Class, Octora Valda Ardinata, mahasiswa Universitas Slamet Riyadi (UNISRI) Surakarta, berhasil membawa suasana belajar yang segar, kreatif, dan menyenangkan bagi siswa-siswi sekolah dasar setempat.
Program ini digelar pada 24 Juli 2025 di SDN 2 Solodiran dan 29 Juli 2025 di SDN 1 Solodiran, melibatkan siswa kelas VI sebagai peserta utama. Bekerja sama dengan guru, perangkat desa, serta rekan mahasiswa KKN kelompok 58, Octora menyajikan pembelajaran Bahasa Inggris dengan metode yang jauh dari kesan kaku. Games, lagu, kartu bergambar, hingga aktivitas interaktif menjadi senjata utamanya dalam menarik perhatian siswa.
Baca Juga: Marketplace terbaik untuk belanja buku referensi perkuliahan
Menurut Octora, tujuan dari English Fun Class bukan hanya membuat anak-anak mengenal kosakata baru, tetapi juga menumbuhkan rasa percaya diri untuk menggunakannya. “Saya ingin anak-anak merasa bahwa Bahasa Inggris itu bukan momok, melainkan teman. Mereka harus tahu bahwa mereka bisa mempelajarinya dengan cara yang menyenangkan,” ujarnya.

Namun, proses ini bukan tanpa tantangan. Salah satu kendala terbesar yang ia temui adalah rendahnya penguasaan kosakata dasar (basic vocabulary). Banyak siswa memilih diam ketika diberi pertanyaan tentang arti kata tertentu, bukan karena tidak mau menjawab, tetapi karena memang belum mengetahui jawabannya. Hal ini disebabkan minimnya paparan Bahasa Inggris di lingkungan sehari-hari, metode pembelajaran sebelumnya yang kurang menekankan kosakata dasar, serta keterbatasan media belajar di sekolah pedesaan.
Untuk mengatasi hambatan tersebut, Octora mengusulkan pembelajaran yang fokus pada kosakata sehari-hari seperti nama benda di rumah, warna, angka, dan kata kerja sederhana. Ia juga mendorong penggunaan media kreatif seperti permainan edukatif, lagu, dan video interaktif yang mampu membuat siswa mengingat kata baru secara alami.
Program ini mendapat dukungan penuh dari pihak sekolah dan pemerintah desa. Kepala Desa Solodiran, Sukamta, menilai kegiatan seperti ini sangat bermanfaat untuk mempersiapkan generasi muda menghadapi era global. “Anak-anak desa juga punya hak untuk mendapatkan pembelajaran yang kreatif dan berkualitas. Kami berterima kasih kepada mahasiswa KKN yang mau turun langsung dan terlibat,” ucapnya.
Guru-guru di SDN 1 dan SDN 2 Solodiran pun mengakui bahwa keberadaan tambahan pengajar membawa warna baru dalam proses belajar mengajar. Dengan metode yang lebih komunikatif dan menyenangkan, anak-anak menjadi lebih terlibat aktif. Bahkan, ada siswa yang secara sukarela meminta Octora untuk mengajar lagi karena merasa metode yang digunakan lebih mudah dipahami.

Pengalaman ini memberikan pelajaran berharga, bukan hanya untuk siswa, tetapi juga untuk Octora sebagai calon pendidik. Ia menyadari bahwa mengajar di lingkungan pedesaan membutuhkan kreativitas, kesabaran, dan empati yang tinggi. “Saya belajar bahwa setiap anak punya potensi. Tugas kita adalah menemukan cara terbaik untuk membantunya berkembang,” katanya.
Keberhasilan English Fun Class menjadi bukti bahwa pendidikan kreatif dapat dilakukan di mana saja, bahkan di desa yang jauh dari hiruk-pikuk kota. Dengan dukungan bersama antara mahasiswa, guru, dan masyarakat, Desa Solodiran kini memiliki langkah awal menuju generasi yang lebih siap bersaing di dunia global.
Dan siapa sangka, sebuah kelas sederhana di sudut desa mampu menyalakan semangat belajar yang bisa menjadi bekal berharga bagi masa depan mereka.
*****
Penulis 1. Octora Valda Ardinata
Penulis 2. Dewi Maria H, S.IKom., M.IKom.














