Klaten — Siapa sangka, air cucian beras yang selama ini dianggap limbah ternyata bisa menjadi “emas cair” bagi pertanian. Inilah yang dibuktikan oleh program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Slamet Riyadi (UNISRI) Surakarta di Desa Nangsri, Kecamatan Manisrenggo, Kabupaten Klaten.
Lewat kegiatan bertajuk Pemanfaatan Limbah Rumah Tangga Menjadi Pupuk Organik Cair Guna Menjaga Lingkungan Berkelanjutan, para ibu PKK dan kader Posyandu setempat kini mahir mengolah limbah rumah tangga menjadi pupuk organik cair (POC) yang ramah lingkungan dan bermanfaat untuk lahan pertanian.
Program yang diinisiasi oleh Janu Budi Astuti, mahasiswa Fakultas Pertanian UNISRI, ini dilaksanakan pada 30 Juli 2025 di Balai Desa Nangsri. Kegiatan mencakup sosialisasi dan praktik langsung pembuatan POC berbahan utama air cucian beras, dilengkapi bahan pendukung seperti gula merah dan bioaktivator EM4.
Desa Nangsri memiliki potensi sumber daya alam yang melimpah. Tanah subur dengan kandungan mineral dari material vulkanik Gunung Merapi menjadikan wilayah ini ideal untuk pertanian padi, jagung, cabai, dan hortikultura. Namun, di balik produktivitas pertanian itu, ada masalah klasik: limbah rumah tangga, khususnya air cucian beras, yang setiap hari terbuang begitu saja ke saluran pembuangan.
“Padahal, air cucian beras mengandung vitamin B, mineral, dan pati yang bisa menyuburkan tanaman,” jelas Janu. Melihat peluang tersebut, ia mengajak warga mengubah kebiasaan membuang limbah menjadi kebiasaan mengolahnya. Tujuannya bukan hanya menjaga kebersihan lingkungan, tetapi juga mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia yang harganya terus naik.

Kegiatan pelatihan ini mendapat sambutan positif. Dari undangan yang disebar, tingkat kehadiran mencapai 95%. Ibu-ibu PKK dan kader Posyandu tampak antusias mengikuti sesi penjelasan materi, lalu berlanjut ke praktik pembuatan pupuk cair. Mereka belajar cara mencampur air cucian beras dengan gula merah dan EM4, memasukkannya ke wadah fermentasi, serta teknik penyimpanan yang tepat agar kualitas pupuk terjaga.
“Awalnya saya tidak tahu kalau air cucian beras bisa dipakai untuk tanaman. Setelah belajar ini, saya mau coba di rumah,” ujar Sri Wahyuni, salah satu peserta.
Baca Juga: Marketplace terbaik untuk belanja buku referensi perkuliahan
Selain meningkatkan keterampilan, kegiatan ini juga menumbuhkan kesadaran bahwa setiap rumah tangga punya peran penting dalam mengurangi limbah organik. Apalagi, Desa Nangsri masih sangat bergantung pada sektor pertanian, sehingga manfaat dari POC dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.

Meski berjalan lancar, program ini tidak luput dari hambatan. Masih ada sebagian warga yang belum terbiasa mengolah air cucian beras, apalagi memfermentasikannya. Perilaku membuang limbah langsung ke selokan sudah menjadi kebiasaan bertahun-tahun sehingga butuh waktu dan pendekatan persuasif untuk mengubahnya.
Keterbatasan peralatan juga menjadi tantangan. Tidak semua peserta memiliki wadah fermentasi atau botol penyimpanan yang kedap udara. Bahkan, beberapa mencoba membuat POC namun gagal karena takaran bahan kurang tepat atau proses fermentasi tidak sesuai standar.
Keberhasilan program ini menjadi bukti bahwa perubahan besar bisa dimulai dari langkah kecil di dapur rumah tangga. Dengan kolaborasi antara mahasiswa, pemerintah desa, dan masyarakat, pengelolaan limbah organik bisa menjadi gerakan bersama yang membawa manfaat lingkungan, sosial, dan ekonomi.
“Kalau semua desa melakukan hal yang sama, bukan tidak mungkin kita bisa mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia dan menjaga alam tetap lestari,” tutup Janu.
*****
Penulis 1. Janu Budi Astuti
Penulis 2. Ida Ayu Fatmayuni S.M., M.M.














