Di ruang laboratorium komputer Politeknik Akbara Surakarta, suasana Rabu pagi itu terasa berbeda. Kursi-kursi telah terisi oleh para pengurus Ikatan Istri Dokter Indonesia (IIDI) Cabang Surakarta yang sejak awal terlihat antusias.
Mereka datang bukan sekadar menghadiri kegiatan formal organisasi, melainkan untuk belajar, berdiskusi, dan meningkatkan kapasitas diri dalam mengelola media sosial organisasi, sebuah kebutuhan yang kini semakin strategis di era digital.
Kegiatan pelatihan manajemen media sosial ini merupakan bagian dari program pengabdian kepada masyarakat yang dikembangkan oleh Program Studi Bisnis Digital Politeknik Akbara. Pelatihan ini dirancang sebagai upaya memperkuat fungsi kehumasan organisasi sosial kemasyarakatan agar lebih adaptif terhadap perubahan pola komunikasi publik.
Direktur Politeknik Akbara yang membuka acara menegaskan pentingnya transformasi digital bagi organisasi komunitas agar pesan mereka dapat tersampaikan dengan lebih luas dan efektif.
Sebelum masuk ke materi inti, para peserta mengikuti pre-test untuk mengukur pemahaman awal mereka terkait penggunaan media sosial, desain konten digital, hingga pengelolaan akun organisasi. Hasilnya menunjukkan bahwa sebagian besar peserta masih menghadapi kesulitan, mulai dari penggunaan Canva, pengelolaan Instagram dan TikTok, hingga penyusunan kalender konten.
Temuan ini semakin menguatkan urgensi pelatihan sekaligus menjadi pijakan bagi fasilitator untuk menyusun pendekatan pembelajaran yang lebih aplikatif.
Pelatihan kemudian berlangsung interaktif. Muhammad Luthfi Hamdani, dosen Bisnis Digital, membuka sesi dengan pengenalan konsep Digital Public Relations, pentingnya branding organisasi, serta strategi manajemen konten yang relevan dengan karakter organisasi sosial.
Setelah itu, Dedy Cahyo Nugroho melanjutkan dengan sesi teknis yang lebih praktis mulai dari teknik fotografi sederhana menggunakan smartphone, pemanfaatan Canva untuk desain, hingga pengelolaan akun Facebook, Instagram, dan TikTok. Setiap sesi tidak hanya berisi paparan konsep, tetapi juga demonstrasi langsung dan praktik mandiri.
Ruang pelatihan pun berubah menjadi ruang eksplorasi. Para peserta tampak mulai terbiasa memotret, mendesain, menyusun caption, dan mengatur jadwal unggahan. Proses yang sebelumnya dianggap rumit kini mulai terasa lebih mudah dipahami.
Tidak sedikit yang tersenyum puas ketika konten pertama mereka berhasil diunggah dengan baik. Pada momen ini terlihat jelas bahwa pelatihan bukan hanya mentransfer pengetahuan teknis, tetapi juga menumbuhkan rasa percaya diri peserta dalam menggunakan media digital.
Di akhir pelatihan, peserta kembali mengikuti post-test. Hasilnya menunjukkan perubahan signifikan. Jika sebelumnya sebagian besar mengaku kesulitan, kini mayoritas menyatakan lebih memahami cara mengoptimalkan media sosial untuk mendukung kegiatan kehumasan organisasi.
Mereka juga dinilai berhasil menghasilkan konten yang lebih terstruktur dan memiliki pesan yang jelas. Evaluasi ini menjadi bukti bahwa pendekatan pelatihan berbasis praktik benar-benar memberikan dampak nyata.
Kegiatan ditutup dengan dokumentasi bersama, namun pembelajaran tidak berhenti di ruang pelatihan. Tim pelaksana membentuk grup WhatsApp sebagai ruang pendampingan lanjutan, berbagi materi, berdiskusi, dan saling menguatkan dalam pengelolaan media sosial ke depan.
Melalui program ini, Politeknik Akbara tidak hanya hadir sebagai institusi pendidikan, tetapi juga sebagai mitra penguatan kapasitas organisasi sosial. Harapannya, IIDI Surakarta semakin siap memanfaatkan media sosial sebagai kanal komunikasi publik yang lebih profesional, humanis, dan berdampak bagi masyarakat.
Artikel lengkap dibaca di tautan berikut: https://journal.appihi.or.id/index.php/numeken/article/view/1438













