Klaten, 24 Juli 2025 – Di tengah derasnya isu kerusakan lingkungan, krisis iklim, dan berkurangnya ruang hijau, mahasiswa KKN 156 Desa Jogosetran menggagas pendekatan berbeda dalam kegiatan pengabdian masyarakat.
Bertempat di Aula Balai Desa Jogosetran, mereka menggelar kegiatan sosialisasi bertema lingkungan hidup yang tak hanya menyentuh aspek ekologis, tetapi juga spiritualitas.
Uniknya, kegiatan ini mengaitkan urgensi reboisasi dengan nilai-nilai teologis Islam, khususnya konsep tauhid. Materi disampaikan oleh salah satu anggota KKN, Sahabat Irfan, yang mengangkat gagasan dari kitab Ihya Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali.
Ia menjelaskan bahwa tauhid tidak hanya bicara soal pengakuan atas keesaan Tuhan secara lisan dan batin, tetapi juga tentang bagaimana manusia memaknai dan menjaga hubungan dengan sesama dan lingkungan sekitar.
“Tauhid bukan hanya soal hablum minallah, tapi juga hablum minannas dan hablum minal ‘alam. Ketiganya adalah satu kesatuan,” ujar Irfan di hadapan warga.
Baca Juga: Lokapasar terbaik untuk belanja buku referensi dan buku ajar
Dalam konteks ini, penanaman pohon dipahami bukan sekadar langkah konservasi, melainkan wujud konkret dari kesalehan sosial dan spiritual. Irfan menekankan bahwa manusia sebagai khalifah fil ardh (pemimpin di bumi), tidak hanya diberi wewenang oleh Tuhan, tetapi juga tanggung jawab moral untuk menjaga harmoni semesta.
“Alam ini sudah berzikir sejak awal penciptaannya. Alam punya fitrahnya sendiri, berzikir, tunduk pada aturan Tuhan. Namun manusia diberi akal dan kuasa untuk merawatnya. Justru manusia yang sering lalai dari peran sebagai penjaga. Kalau kita abai, maka kita sedang mencederai amanah yang diberikan oleh Allah, Ketika kita menanam pohon, itu bukan hanya aksi hijau, tapi bagian dari ibadah,” tegasnya.
Antusiasme warga terpancar. Banyak di antara mereka yang mengaku baru kali ini mendengar konsep religius yang erat kaitannya dengan isu lingkungan.
Melalui pendekatan teologis ini, KKN 156 berharap kegiatan tidak berhenti pada simbolisme tanam-menanam semata, melainkan membentuk kesadaran mendalam bahwa menjaga alam adalah bagian dari tugas keagamaan. Ini adalah upaya menautkan ulang nilai-nilai tauhid dengan praksis sosial ekologis.
Dengan menanam pohon, warga Jogosetran bukan hanya mengisi ruang kosong dengan vegetasi, tetapi juga menanam harapan, doa, dan kesadaran baru, bahwa bumi adalah titipan, dan kita semua adalah penjaganya.














